IDENTIFIKASI PEMANFAATAN POHON JATI(Tectona grandis) SEBAGAI POHON BERNILAI EKONOMI TINGGI
Paper Ekonomi Sumber Daya Hutan Medan,Mei 2021
IDENTIFIKASI PEMANFAATAN POHON JATI(Tectona grandis) SEBAGAI POHON BERNILAI EKONOMI TINGGI
Dosen Penanggung Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut.,M.Si.
Oleh :
Rika Elfina Br Simarmata
191201158
HUT 4B
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan dengan baik dan tepat waktu. Tujuan dari penulisan paper ini yaitu untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan, di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara. Adapun judul paper ini adalah “Identifikasi Pemanfaatan Pohon Jati (Tectona grandis) Sebagai Pohon Bernilai Ekonomi Tinggi.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si., selaku dosen mata kuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan yang telah memberikan materi dengan baik. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah memberikan arahan dan ide-idenya.
Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan paper ini. Semoga paper ini menambah wawasan dan pengetahuan bagi para pembaca.
Medan, Mei 2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR........................................................i
DAFTAR ISI .....................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang......................................................1
1.2 Rumusan Masalah................................................2
1.3 Tujuan...................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Identifikasi dan Gambaran Umum Pohon Jati.....3
2.2 Bagian bagian Pohon Jati yang Bermanfaat.........5
2.3 Potensi dan Pemanfaatan Pohon Jati....................5
BAB III PENUTUP
Kesimpulan................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sumberdaya alam mempunyai peran penting dalam kelangsungan hidup manusia. Pengelolaan terhadap sumberdaya alam harus sangat bijaksana. Karena diperlukan waktu yang cukup lama untuk bisa memulihkan kembali apabila telah terjadi ke- rusakan/kepunahan. Pengelolaan secara bijaksana yaitu pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya yang optimal dan berwawasan lingkungan agar sumberdaya alam yang ada tetap lestari. Hutan sebagai sumberdaya alam yang memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan manusia,baik manfaat tangible yang dirasakan secara langsung, maupun intangible yang dirasakan secara tidak langsung. Manfaat hutan tersebut diperoleh apabila hutan terjamin eksistensinya sehingga dapat berfungsi secara optimal. Namun berbagai manfaat ini dapat dirasakan apabila hutan di kelola dengan benar. Saat ini berbagai manfaat yang dihasilkan hutan masih dinilai secara rendah sehingga menimbulkan terjadinya eksploitasi sumberdaya hutan yang berlebih. Hal tersebut disebabkan karena masih banyak pihak yang belum memahami nilai dari berbagai manfaat sumberdaya hutan secara komperehensif. Untuk memahami manfaat dari sumberdaya hutan tersebut perlu dilakukan penilaian terhadap semua manfaat yang dihasilkan sumberdaya hutan. Salah satu sumberdaya alam yang memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan manusia khususnya di wilayah perkotaan adalah hutan kota(Benu,2011).
Hutan merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Hubungan interaksi antara masyarakat desa hutan dengan lingkungan alam sekitarnya telah berlangsung selama berabad -abad lamanya secara lintas generasi dalam bingkai keseimbangan kosmos. Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan di setiap masyarakat desa hutan mempunyai ciri khas tersendiri (Local specific) sesuai dengan karakteristik budaya masyarakat yang tinggal didalam dan disekitar hutan. Sumberdaya hutan dimaknai sebagai sumberdaya alam yang memiliki nilai ekonomi, religius, politik, sosial dan budaya. Oleh karena itu, kelangsungan hidup dari masyarakat dan hutan sangat tergantung dari ketersediaan sumber daya hutan yang ada disekitar lingkungannya(Prawestya,2011).
Hutan sebagai sumberdaya alam yang terbarukan, memiliki berbagai manfaat penting bagi keberlangsungan hidup mahluk hidup. Pengelolaan hutan yang baik harus dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat, pengelola hutan dan stakeholders serta lingkungan sekitarnya. Tidak hanya itu, pengelolaan hutan yang baik juga harus memperhatikan aspek-aspek kelestarian hutan, seperti: aspek ekologi, produksi, serta sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar hutan (Purnawan, 2006).
Kehidupan masyarakat desa sekitar hutan tidak bisa dipisahkan dari keberadaan hutan tempat mereka menggantungkan hidupnya. Tingginya angka kemiskinan dan laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dari tahun ke tahun menjadi permasalahan besar dalam pembangunan hutan. Tekanan terhadap hutan terus meningkat serta tuntutan terhadap pemenuhan kebutuhan hidup dan penyediaan lahan untuk areal pemukiman dan fungsi-fungsi lainnya menjadi lebih besar. Implementasi kegagalan pengelolaan hutan akan berdampak pada meningkatnya deforestasi hutan. Paradigma baru dalam pengelolaan dan pembangunan hutan yang melibatkan masyarakat merupakan harapan baru untuk dapat memecahkan permasalahan yang terjadi dalam pembangunan kehutanan (Darusman,2012).
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari paper ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana identifikasi dan deskripsi dari pohon jati?
2. Apa saja bagian bagian dari pohon jati yang bermanfaat?
3. Bagaimana potensi dan pemanfaatan pohon jati?
Tujuan
Adapun tujuan dari paper ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui identifikasi dan deskripsi dari pohon jati.
2. Untuk mengetahui apa saja bagian bagian dari pohon jati yang bermanfaat.
3. Untuk mengetahui potensi dan pemanfaatan pohon jati.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Identifikasi dan Klasifikasi Pohon Jati
Gambar 1. Pohon Jati (Tectona grandis)
Jati dengan nama botanis Tectona grandis termasuk famili Verbenaceae, tinggi pohon dapat mencapai 25 m - 30 m. Di daerah yang subur pertumbuhan jati dapat mencapai 50 m dengan diameter 150 cm. Meningkatnya kebutuhan akan kayu jati di dalam maupun luar negeri, menjadikan jati pilihan utama sebagai bahan baku industri kayu karena kekuatan dan keindahan seratnya. Jati merupakan tanaman yang sangat populer sebagai penghasil bahan baku untuk industri perkayuan karena memiliki kualitas dan nilai jual yang sangat tinggi (Murtinah dkk., 2015). Jati merupakan salah satu jenis kayu tropis yang sangat penting dalam pasar kayu internasional karena berbagai kelebihan yang dimilikinya dan merupakan jenis kayu yang sangat bernilai untuk tanaman kehutanan (Bermejo dkk., 2004).
Menurut Sumarna (2011), klasifikasi jati digolongkan sebagai berikut.
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Angiospermae
Ordo : Verbenales
Famili : Verbenaceae
Genus : Tectona
Spesies. : Tectona grandis Linn. F.
Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Berdaun besar, yang luruh di musim kemarau. Jati dikenal dunia dengan nama teak (bahasa Inggris). Jati dapat tumbuh di daerah dengan curah hujan 1 500 – 2 000 mm/tahun dan suhu 27 – 36 °C baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.[1] Tempat yang paling baik untuk pertumbuhan jati adalah tanah dengan pH 4.5 – 7 dan tidak dibanjiri dengan air. Jati memiliki daun berbentuk elips yang lebar dan dapat mencapai 30 – 60 cm saat dewasa. Jati memiliki pertumbuhan yang lambat dengan germinasi rendah (biasanya kurang dari 50%) yang membuat proses propagasi secara alami menjadi sulit sehingga tidak cukup untuk menutupi permintaan atas kayu jati. Jati biasanya diproduksi secara konvensionaldengan menggunakan biji. Akan tetapi produksi bibit dengan jumlah besar dalam waktu tertentu menjadi terbatas karena adanya lapisan luar biji yang keras. Beberapa alternatif telah dilakukan untuk mengatasi lapisan ini seperti merendam biji dalam air, memanaskan biji dengan api kecil atau pasir panas, serta menambahkan asam, basa, atau bakteri. Akan tetapi alternatif tersebut masih belum optimal untuk menghasilkan jati dalam waktu yang cepat dan jumlah yang banyak.
Pohon besar dengan batang yang bulat lurus, tinggi total mencapai 40 m. Batang bebas cabang (clear bole) dapat mencapai 18–20 m. Pada hutan-hutan alam yang tidak terkelola ada pula individu jati yang berbatang bengkok-bengkok. Sementara varian jati blimbing memiliki batang yang berlekuk atau beralur dalam; dan jati pring (Jw., bambu) nampak seolah berbuku-buku seperti bambu. Pohon jati (Tectona grandis sp.) dapat tumbuh meraksasa selama ratusan tahun dengan ketinggian 40-45 meter dan diameter 1,8-2,4 meter. Namun, pohon jati rata-rata mencapai ketinggian 9-11 meter, dengan diameter 0,9-1,5 meter. Bunga majemuk terletak dalam malai besar, 40 cm × 40 cm atau lebih besar, berisi ratusan kuntum bunga tersusun dalam anak payung menggarpu dan terletak di ujung ranting; jauh di puncak tajuk pohon. Taju mahkota 6-7 buah, keputih-putihan, 8 mm. Berumah satu. Buah berbentuk bulat agak gepeng, 0,5 – 2,5 cm, berambut kasar dengan inti tebal, berbiji 2-4, tetapi umumnya hanya satu yang tumbuh. Buah tersungkup oleh perbesaran kelopak bunga yang melembung menyerupai balon kecil. Nilai Rf pada daun jati sendiri sebesar 0,58-0,63.
2.1 Bagian-bagian pohon jati yang daoat dimanfaatkan
Berikut ini beberapa manfaat pohon jati: Akar berguna sebagai pewarna. Sekitar abad ke-17, warga Sulawesi Selatan menggunakan akar jati untuk mewarnai anyaman. Warna yang dihasilkan adalah kuning dan kuning agak kecoklatan. Pohon jati berguna untuk membuat berbagai konstruksi berat dan furniture. Selain itu, hasil seduhan kayu jati yang pahit dapat dijadikan sebagai penawar rasa sakit. Ranting pohon jati berguna sebagai bahan bakar kualitas satu yang menghasilkan panas sangat tinggi sehingga dulu digunakan sebagai bahan bakar lokomotif uap. Daun muda yang diseduh maupun ditumbuk berguna sebagai penawar rasa sakit. Daun jati dimanfaatkan secara tradisional di Jawa sebagai pembungkus, termasuk pembungkus makanan. Nasi yang dibungkus dengan daun jati terasa lebih nikmat. Contohnya adalah nasi jamblang yang terkenal dari daerah Jamblang, Cirebon. Daun jati juga banyak digunakan di Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai pembungkus tempe. Berbagai jenis serangga hama jati juga sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan orang desa. Dua di antaranya adalah belalang jati (Jw. walang kayu), yang besar berwarna kecoklatan, dan ulat-jati (Endoclita). Ulat jati bahkan kerap dianggap makanan istimewa karena lezatnya. Ulat ini dikumpulkan menjelang musim hujan, di pagi hari ketika ulat-ulat itu bergelantungan turun dari pohon untuk mencari tempat untuk membentuk kepompong (Jw. ungkrung). Kepompong ulat jati pun turut dikumpulkan dan dimakan.
2.3 Potensi dan Pemanfaatan Pohon Jati
Jati adalah Pohon yang memiliki nilai komersial yang tinggi ini dibawa dari India dan dibudidayakan pada zaman penjajahan Belanda ternyata cocok tumbuh di Indonesia. Banyak masyarakat yang memanfaatkan kayu jati untuk pengrajin benda, kursi, meja, lemari dan lain-lain. Begitu juga dengan warga Jepara yang sudah terbiasa untuk mencari penghasilan sebagai pengrajin jati. Kayu jati banyak digunakan untuk bantalan rel kereta api, tiang jembatan, mebel, balok dan gelagar rumah, serta kusen, pintu, dan jendela.
Produk jati mempunyai nilai jual yang tinggi akibat maraknya permintaan ekspor kayu olahan yang berbahan baku kayu jati. Pengembangan potensi yang ada di masyarakat dalam hal teknologi manajemen dan permodalan sehingga mampu menghasilkan produk yang luar biasa hasilnya bagi peningkatan taraf hidup. Kebutuhan perbaikan kualitas lingkungan hidup, antara lain produksi oksigen dan konservasi hutan, tanah dan air.
Dalam industri furniture atau souvenir kayu jati yang menggunakan bahan baku utama kayu jati dikenal dengan istilah jati Jawa Barat dan jati Jawa Timur/Tengah. Di Jawa Barat, hutan jati terkonsentrasi di sekitar Ciamis. Menurut sumber dan pengalaman yang ada, kayu jati Jawa barat cenderung lebih murah harganya dibandingkan dengan jati yang berasal dari Blora Jawa Tengah dan sekitarnya. Perbedaan tersebut bisa mencapai nilai yang cukup tinggi bahkan signifikan. Kayu jati dari Jawa Barat memiliki pori-pori kayunya lebih besar, pada beberapa bagian kayu terdapat warna coklat kemerahan, namun jika dijemur langsung di bawah sinar matahari, warna tersebut akan hilang dan berubah coklat keemasan. Perbedaan Kualitas dari beberapa buyer furniture Jati yang berpengalaman bisa membedakan kedua tipe kayu tersebut dan bahkan secara spesifik melakukan negosiasi harga berdasarkan tipe kayu tersebut.
Kayu jati hutan Blora sangat terkenal kualitasnya dan telah lama menjadi pemasok utama kebutuhan kayu jati di sentra kerajinan kayu jati seperti furniture jati dan souvenir kayu jati. Ada 2 janis kayu jati, jati hutan yang dikelola perhutani untuk memenuhi kebutuhan ekspor dengan kualitas jati yang paling tinggi, dan jati rakyat (orang Blora menyebutnya dengan “jati kampong”) untuk memenuhi kebutuhan lokal dan nasional. Potensi kayu jati yang cukup melimpah itu, mendorong tumbuh suburnya berbagai kerajinan yang memanfaatkan kayu jati sebagai bahan baku utama pembuatan handycraft, seni ukir, kaligrafi, dan mebel kayu akar jati. Bahkan ada wilayah yang menjadi sentra kerajinan yang memanfaatkan akar pohon kayu jati yang awalnya dianggap tidak bermanfaat oleh pihak Perhutani.
Di Indonesia sendiri, kayu jati tersebar di beberapa daerah, namun kayu jati dari Blora masih menjadi primadona. Karena tekstur kayu jati Blora lebih halus dan kayunya lebih kuat dibanding kayu jati dari daerah lain di negeri ini. Dengan kehalusan tekstur dan keindahan warna kayunya, jati digolongkan sebagai kayu mewah. Produk-produk ekspor tersebut berbahan jaya teak (jati jawa, khususnya Cepu Blora dari Jawa Tengah dan sekitarnya) sangat dikenal dan diburu oleh para kolektor di luar negeri.
Namun ironinya, walau Blora terkenal dengan hutan Jati dan Minyak bumi yang dikelola sejak zaman kolonial Belanda sampai dengan pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sekarang ini, tetapi perekonomian rakyat Blora termasuk salah satu yang terendah di Jawa Tengah. Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki oleh kabupaten Blora ternyata tidak mampu mengangkat taraf kehidupan dan taraf ekonomi masyarakatnya. Hal ini disebabkan karena semua hasil SDA dinikmati oleh pemerintah pusat dan pegawai perusahaan yang sebagian besar dari luar Blora, tanpa ada program yang jelas untuk meningkatkan perekonomian rakyat sekitar.Sejalan dengan hal tersebut, Pemerintah terus mengajak para pelaku sektor riil, khususnya pelaku usaha dan eksportir industri manufaktur untuk bersinergi dengan pemerintah melakukan langkah terobosan strategis dalam jangka pendek guna meningkatkan ekspor non- migas, terutama ekspor produk industri kayu jati yang merupakan produk ekspor bernilai tambah tinggi guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kabupaten Blora.
BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan
1. Jati dengan nama botanis Tectona grandis termasuk famili Verbenaceae, tinggi pohon dapat mencapai 25 m - 30 m.
2. Jati adalah sejenis pohon penghasil kayu bermutu tinggi. Pohon besar, berbatang lurus, dapat tumbuh mencapai tinggi 30-40 m. Berdaun besar, yang luruh di musim kemarau.
3. Hampir semua bagian jati dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, terutama bagian fisik (daun, batang,dan akar).
4. Pohon jati berguna untuk membuat berbagai konstruksi berat dan furniture. Selain itu, hasil seduhan kayu jati yang pahit dapat dijadikan sebagai penawar rasa sakit. Ranting pohon jati berguna sebagai bahan bakar kualitas satu, dan muda yang diseduh maupun ditumbuk berguna sebagai penawar rasa sakit.
5. Produk jati mempunyai nilai jual yang tinggi akibat maraknya permintaan ekspor kayu olahan yang berbahan baku kayu jati.
DAFTAR PUSTAKA
Benu,Latif. 2011. Identifikasi Sebaran dan Produksi Tanaman Jati (Tectona grandis) di Kabupaten Subanv (Doctoral dissertation, Universitas Quality).
Bermejo,Kendek K, Yusmainu.2004.Diktat Penilaian Sumberdaya Hutan dan Lingkungan.Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor
Darusman, D. 2012. Laporan Akhir Pola Pengusahaan Hutan Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa Sekitar Hutan. Bogor: Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Murtimah, M., & Sribianti, I. (2017). Nilai Manfaat Ekonomi Tanaman Nipah (Nypa Fruticans) Desa Lakkang Kecamatan Tallo Kota Makassar. Jurnal Hutan Tropis, 4(2), 140-144
Purnawan, R. 2006. Pemanfaatan Sumberdaya Hutan Sebagai Ekoturism Berbasis Kemasyarakatan. Surili 2 (39): 14.
Prawestya Tunggul Damayatanti.2011. Upaya Pelestarian Hutan Melalui Pengelolaan Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat. Jurnal Komunitas. 3(1): 70-82.
Sumarna, Y. 2011. Kayu Jati – Panduan Budidaya dan Prospek \Bisnis. Buku. Penebar Swadaya. Jakarta. 21 hlm.
sangat bermanfaat
BalasHapussangat bermanfaat
BalasHapusBagus tapi lebi baik tampilannya dibenerin
BalasHapusInformasi menambah wawasan 👍
BalasHapusMenarik
BalasHapusMantap, ditunggu tulisan selanjutnya
BalasHapusmenarik dan sangat bermanfaat
BalasHapusBagus
BalasHapusMenarik dan menambah wawasan
BalasHapusSangat bermanfaat dan menambah pengetahuan
BalasHapussangat bermanfat dan informatif
BalasHapuskeren x, tapi kerenan aku
BalasHapusSangat bermanfaat bagi kehidupan bangsa dan negara
BalasHapusHaha
BalasHapusIsi tulisannya oke, cuma tampilannya bisa dibagusin lagi ya, aku si yes
BalasHapusoke cukup mengispirasienn
BalasHapusSangat informatif dan menambah wawasan
BalasHapus